Translate

Senin, 08 April 2013

Kisah gadis berjilbab di dalam angkutan umum

Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke kost, naik bis. Di sebelah saya duduk seorang bapak yang ramah dan menyapa saya lebih dulu. Terjadilah obrolan ringan, cerita tentang kegiatan masing-masing, kerja dimana, tinggal dimana, asli mana, dan standar percakapan di dalam angkutan gitulah. Karena si bapak itu tahu saya merantau di sini, beliau bertanya:

"Mbak, jadi sering pulang kampung ya? kan ga jauh tuh Jakarta-Semaran g?"

"Ga juga pak, biasanya kalo pas ada tanggal merah, kan libur gitu dan pas weekend pula, jadi bisa lama di rumah.."

"Oo gitu ya, wah berarti akhir bulan ini mudik donk mbak? kalo ga salah tanggal 28 merah tuh.. emm.. hari libur apa ya?"

"Waisak pak, kalo ga salah juga saya.."

"Iya iya benar.. saya pernah tuh ke Semarang, dan waktu Waisak rame banget ya, apalagi di kuil apa itu namanya, yang terkenal itu mbak?"

"Oh, kuil Sam Po Kong pak, yang terkenal sama Laksamana Cheng Ho -nya itu.."

"Iya iya, terus para bhiksu katanya long march ke Borobudur ya buat acara puncak di sana?"

"Waduh, saya kurang tau kalo itu pak.."

"Emmm.. mbak, mbak Budha ya???"

Gubraaaaaakkkks sssssssss...

Cukup shock sama pertanyaan si bapak itu, spontan jari telunjuk langsung nunjuk jilbab yang saya pakai..

"Lha ini apa pak?"

Si bapak ga jawab, tapi wajahnya innocent gitu deh.. ga habis pikir saya, padahal dah ngobrol dari tadi.. fiuuuuhhhhhhh.. .

*******

Mungkin bagi beberapa orang kisah di atas tidak begitu berarti, hanya saja saya jadi teringat kembali sesaat setelah membaca postingan dari dek Andiah, dia menceritakan tentang kajian yang di ikutinya bersama Ibu Fathiya Khatib beberapa waktu yang lalu.

Dalam kajian tersebut, Ibu Fathiya Khatib bercerita bahwa pada suatu ketika, beliau pergi dengan menggunakan taksi. Beliau lantas terlibat percakapan dengan sang supir taksi tersebut.

"Bu.. Ibu sudah lama pake jilbab? Dari kapan?"

"Wah..dari kapan ya? Dari lulus SMA"

"Tapi Ibu Islam kan?"

Ibu Fathiya pun heran kenapa sang supir menanyakan hal tersebut. Ternyata, setelah berbincang-binc ang lebih lanjut, sang supir pun menceritakan kisahnya.

Alkisah, pada suatu hari, supir taksi ini mendapat penumpang seorang wanita berjilbab. Tak berapa lama, supir dan perempuan muda itu terlibat perbincangan, yang hampir mirip dengan perbincangan sang supir dengan Ibu Fathiya tadi.

"Mbak, sejak kapan pakai jilbab?" tanya supir taksi.

"Oh, saya bukan muslim Pak..." jawab si wanita, yang tentu saja membuat sang supir kaget bercampur heran."

"Saya suka aja pakai jilbab. Rasanya nyamaan gitu kalo pake jilbab. Orang-orang nggak berani macem-macem, nggak godain, saya ngerasa aman." begitu kata wanita itu. Lantas lanjutnya, " ..sayang, orang muslim sendiri tidak paham dengan jilbab."

*******

Lihat?!, Bahkan mereka yang notabene bukan muslimah pun tau betapa pentingnya menutup aurat. Sementara di antara para muslimah itu sendiri masih ada yang ragu untuk mulai menjalankan perintah Allah ini.

Semoga kisah yang sedikit ini dapat menjadi renungan bersama,,,Aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar